Kasus COVID-19 Meledak di China, Pakar Sebut Risiko Munculnya Varian Baru

Petugas melakukan tes COVID-19 di rumah sakit sementara di Shanghai, China.
Petugas melakukan tes COVID-19 di rumah sakit sementara di Shanghai, China.
Sumber :
  • Chinatopix via AP

VIVA Lifestyle – China akan menghadapi berbagai gelombang COVID-19 karena varian Omicron bermutasi menjadi lebih kuat dalam menulari dan menghindari kekebalan, demikian para ilmuwan telah memperingatkan. Ahli virologi Shan-Lu Liu dari The Ohio State University di Amerika Serikat mengatakan bahwa ketika perlindungan vaksin berkurang, tingkat infeksi ulang akan meningkat.

“China kemungkinan akan mengikuti tren, dan mengulangi gelombang infeksi seperti yang terlihat di bagian lain dunia,” kata Liu, dalam laman Channel News Asia, dikutip VIVA, Selasa 3 Januari 2023. Sroll untuk https://www.viva.co.id//gaya-hidup/kesehatan-intim/1561648-kasus-covid-19-meledak-di-china-pakar-sebut-risiko-munculnya-varian-baru selengkapnya.

Liu juga mengatakan bahwa Omicron, varian dominan di seluruh dunia selama lebih dari setahun, memiliki tingkat infeksi ulang tertinggi. Meski, para ilmuwan masih mencoba memahami dasar-dasar alasan beberapa orang yang sembuh dari COVID-19 bisa terinfeksi lagi.

Ilustrasi COVID-19/virus corona.

Ilustrasi COVID-19/virus corona.

Photo :
  • Pixabay/mattthewafflecat

Omicron Berisiko Picu Infeksi Ulang
Di antara yang tidak diketahui adalah seberapa sering infeksi ulang terjadi, seberapa parah dibandingkan dengan infeksi awal dan apa efek kesehatan jangka panjangnya. Di sebagian besar dunia, infeksi ulang telah menjadi hal biasa, dengan tiga atau empat puncak infeksi besar pada tahun 2022.

"Pada titik ini, tampaknya sulit untuk mencegah situasi seperti itu terjadi di China,” kata ahli biokimia Universitas Peking Cao Yunlong kepada China News Service.

Dalam sebuah penelitian yang dipimpin oleh Universitas Peking, para peneliti memeriksa 6,6 juta kasus dari seluruh dunia dan menemukan tingkat infeksi ulang rata-rata dari semua varian pra-Omicron adalah sekitar 2 persen. Namun, Omicron jauh lebih mudah menular dan tingkat infeksi ulangnya diperkirakan jauh lebih tinggi, menurut para peneliti.

Halaman Selanjutnya
img_title