Subsidi BBM, Indonesia Tidak Sendiri

bbm belanda sorot
bbm belanda sorot
Sumber :
  • Reuters/Koen van Weel

VIVAnews – Banyak negara menyadari bahwa subsidi bahan bakar minyak (BBM) memberatkan beban anggaran keuangannya. Ini tak hanya menjadi momok isu domestik.

Subsidi pemerintah ke salah satu kebutuhan vital itu juga menjadi kekhawatiran besar bagi sejumlah negara. Banyak kalangan telah menyerukan betapa pentingnya melakukan reformasi subsidi, akibat besarnya subsidi yang harus dibayarkan negara.

Di Indonesia, dalam pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014, subsidi pemerintah naik menjadi Rp444,58 triliun dari sebelumnya Rp333,68 triliun. Fakta mengejutkan, subsidi energy, khususnya BBM dan listrik melonjak drastis.

Subsidi BBM dalam APBN-P 2014 dipatok Rp284,99 triliun dari sebelumnya di APBN sebesar Rp210,74 triliun. Sementara itu, subsidi listrik naik dari Rp71,36 triliun menjadi Rp107,145 triliun.

Meminjam istilah Bank Dunia, Indonesia telah menjadi korban dari pertumbuhan ekonominya sendiri. Ekonomi yang melesat telah meningkatkan jumlah kendaraan bermotor, dan pada gilirannya semakin rakus menyedot BBM bersubsidi.

Sementara itu, subsidi sumber energi dari bahan fosil seperti minyak, batu bara, dan gas jauh lebih besar dibandingkan subsidi energi yang terbarukan. Seperti dikutip dari stasiun berita BBC News, Rabu 27 Agustus 2014, menurut International Energy Agency (IEA), subsidi bahan bakar fosil di seluruh dunia pada 2012 mencapai US$544 miliar, sedangkan subsidi untuk energi yang terbarukan hanya US$101 miliar.

Besarnya subsidi bahan fosil tersebut, menyebabkan lemahnya persaingan harga

energi alternatif, sehingga sumber daya energi alternatif menjadi tidak berkembang.

Halaman Selanjutnya
img_title