Bisnis Menggiurkan Jadi Agen Pos

agen pos
agen pos
Sumber :
  • VIVAnews/Raden Jihad Akbar

VIVAnews – Saat surat menyurat tidak lagi menjadi tren, ditambah dengan maraknya penggunaan teknologi komunikasi, PT Pos mencoba tetap bertahan dengan mengikuti arus teknologi. Transformasi itu salah satunya membuahkan program kemitraan yang bernama AgenPos.

AgenPos merupakan program kemitraan yang ditawarkan kepada masyarakat sebagai kepanjangan tangan PT Pos Indonesia dalam mengoptimalkan pelayanannya kepada masayarakat.

AgenPos bukanlah program kemitraan biasa. Masyarakat yang ingin berbisnis tidak perlu membayar royalti atau uang jaminan kepada PT Pos.

Tidak dibutuhkan biaya banyak bagi warga yang ingin menjadi AgenPos. Proses pendaftarannya pun mudah, hanya membutuhkan dokumen seperti KTP, KK dan NPWP.

Pihak PT Pos Indonesia menghitung, total modal awal yang dibutuhkan adalah Rp12 juta dengan konsumsi paling besar untuk biaya sewa tempat ditambah pembelian perangkat pendukung seperti komputer, printer, alat timbang maupun jaringan internet. Selebihnya, sebanyak 5 juta dialokasikan untk deposit awal.

“Kalau sudah punya perangkat dan tempat, berarti yang dibutuhkan hanya deposit yang disetor ke PT Pos. Jika ada transaksi maka akan dipotong dari deposit tersebut.  Jika habis, bisa di top up,” jelas Manager Pengembagan Agenpos, PT Pos Indonesia, Tjahyaning Seno, kepada VIVAnews.

Menurut Tjahyaning, program kemitraan yang mulai diseriusi PT Pos sejak 2011 lalu itu saat ini sudah diikuti oleh 1700 Agen yang juga melayani jasa kurir. Sedangkan yang melayani jasa pembayaran atau Pospay sudah terdaftar sekitar 22 ribu agen di seluruh Indonesia.

Imbal hasil yang ditawarkan juga menarik. Menurut Tjahyaning, untuk jasa kurir komisi yang didapatkan 20 persen dari setiap transaksi pengiriman. Kemudian pengiriman ekspres sekitar 18 persen, penjualan Prangko sebesar 15 persen dan transaksi jasa keuangan komisi yang diberikan antara Rp 500-2200 pertransaksi.

Cepat Menyerah

Meski mudah dan terjangkau, tidak semua agen mampu bertahan. Menurut Tjahyaning, dari 1.700 AgenPos yang terdaftar, hanya 56 persen yang mampu bertahan saat ini. Pasalnya, kebanyakan mereka yang bergabung hanya karena euphoria dengan tidak diiringi oleh pemasaran dan pengembangan penjualan.

Namun, terlepas dari hal tersebut, bisnis yang ditawarkan ini juga terbukti membuat banyak orang menjadi miliarder. Data PT Pos mencatat ada yang beromset sebesar Rp 7,78 miliar selama kurang dari satu tahun, yaitu Agenpos Aldo di Cibinong. Sementara itu Antar Sampai di Jakarta beromset Rp 1,27 miliar dalam periode yang sama.

Dihubungi terpisah, Manajer Operasional AgenPos Antar Sampai, Jati, mengatakan perusahaannya sempat mengeluarkan modal awal sekitar Rp10 juta. AgenPos yang terletak di sebuah ruko di Cempaka Putih itu harus berkali-kali pindah lokasi sebelum akhirnya bisa stabil seperti ini.

“Penentuan lokasi yang strategis, dekat perkantoran atau pusat-pusat kegiatan, menjadi salah satu faktor penentu dalam menjalankan bisnis ini. Kami juga pernah pindah karena tidak bisa meneruskan kontrak,” ungkap Jati.

Meski sering berpindah, ia mengatakan masih ada pelanggan setia yang tetap menggunakan jasa perusahaannya. Bahkan jumlah pelanggan terus bertambah. Hingga saat ini sudah ada ribuan konsumen yang menggunakan jasa Agenpos Antar Sampai. tidak hanya orang pribadi, bahkan instansi pemerintahaan juga sudah menggunakan jasa Antar Sampai.

Bisnis Kepercayaan

Pemilik Agenpos Antar Sampai ini sejatinya adalah seorang wanita bernama Suwati, yang juga adalah pegawai PT Pos Indonesia. Sampai saat ini mereka telah memperkerjakan empat pekerja dan satu pekerja lepas.

Setiap bulan penghasilan para pekerjanya juga dikatakan telah sesuai dengan Upah Minimum Provinsi (UMP). Sayangnya, Jati enggan menceritakan detil mengenai omset perusahaan. Bahkan ketika dikonfirmasi mengenai data PT Pos terkait omset sebesar Rp1,27 miliar, Jati tak mau berkomentar.

Dikatakan Jati, hal lain yang membuat Agenpos berbeda dengan layanan serupa lainya adalah karena AgenPos teafiliasi dengan puluhan vendor yang menawarkan jasa pembiayaan. Bahkan dengan layanan pospay, masyarakat bisa membayarkan tagihan listrik, telpon dan air yang menjadi kebutuhan setiap bulannya.

"Ini kelebihan kami. Untuk orang awam kadang masih takut bayar di bank. Misalnya kredit motor bisa saja di bank tapi karena tanda buktinya kecil dan gampang luntur, orang jadi ragu," tambahnya.

Nama besar PT Pos Indonesia juga menjadi alasan banyak orang yang ingin bergabung. Ini menyebabkan prospek bisnis ini, menurut Jati juga masih berpotensi besar. Apalagi mekasnisme perdagangan di Indonesia telah berkembang kearah online.

Serupa dengan Jati, Tjahyaning juga menegaskan jika bisnis ini cukup menjanjikan di masa depan. Bagi PT Pos Indonesia sendiri, perkembangan Agenpos merupakan kontribusi perusahaan untuk membantu pemerintah dalam upaya pengembangan ekonomi Indonesia di masa depan.

"Kalau di kita ini, agen pos untuk perluasan jaringan sehingga lebih dekat dengan masyarakat. Kedua sebagai kepanjangan tangan. Kalau tambah mulus, rotinya tambah banyak," ungkap Tjahyaning. (ren)