Sajian Kuliner Legendaris Pasar Besar

Pasar Besar Kota Malang
Pasar Besar Kota Malang
Sumber :
  • ecetemelkuran.com/Dyah Ayu Pitaloka

ecetemelkuran.com - Warung tua itu tampak sederhana. Terletak di lantai dasar, tak jauh dari pintu masuk sebuah pasar. Menu yang tersaji masih sama. Soto, rawon, gulai, dan ayam lodho. Resepnya pun tak berubah.

“Bangku yang dipakai juga sama,” kata Yusuf generasi ketiga Haji Ridwan yang kini mengelola warung itu.

Haji Ridwan adalah seorang perantauan asal Madura. Dia mulai menjalankan warung sejak 1925, tepat setelah Pasar Besar selesai dibangun usai diambil alih Belanda. Dikenal dengan "Warung Lama", kelezatan ayam lodhonya makin kental di lidah warga Malang.

Yusuf yang kini berusia 63 tahun, mengaku bangga, lantaran resep ayam lodho itu telah mengisi salah satu menu di buku "100 Mak Nyus Makanan Tradisional Indonesia". “Itu fotonya,” kata Yusuf sambil menunjuk pajangan dinding berisi kliping koran pemberitaan tentang Bondan Winarno saat berada di warungnya.

“Ayam lodho di sini enak, rasanya mondo-mondo, pas di lidah,” kata Ary Bowo Sucipto, pengunjung warung itu, sambil menyeka bulir keringat di dahi.

Kelezatan ayam lodho warisan Haji Ridwan itu membuat Pasar Besar tak surut dikunjungi. Apalagi, Jalan Wiromargo di Kota Malang, yang tak jauh dari Pasar Besar selalu ramai dengan penjual aneka kelopak bunga.

Pasar Besar Kota Malang

Pengunjung menikmati makanan di Warung Lama milik H. Ridwan di kompleks Pasar Besar Kota Malang. Foto: ecetemelkuran.com/Dyah Ayu Pitaloka

Ada bunga sepatu, bunga cibung, pandan, melati, bunga sepatu, dan juga kenanga. Kesibukan aneka pedagang dan pembeli pun meluber di Pasar Besar, pasar tertua di Kota Malang.

Seperti daerah lama di Kota Malang, Pasar Besar dulu juga dikenal sebagai kawasan Pecinan, nama yang diturunkan dari kebiasaan, banyaknya warga Tionghoa yang bermukim dan berkumpul di situ. Seperti pula nama kawasan Embong Arab, Kayu Tangan, maupun Pecinan Kecil.

“Setiap Rabu Wage dan Jumat Kliwon, pasar bunga pasti ramai. Semua ke sini,” kata Wiji, pedagang bunga di pasar itu. 

Bunga aneka rupa lazim digunakan saat berkunjung ke makam kerabat pada Rabu Wage dan Jumat Kliwon. Wage dan kliwon merupakan dua dari lima nama hari pasaran, sesuai kalender Jawa.

Jalan Wiromargo atau Pecinan Kecil telah berubah fungsi menjadi pusat perdagangan kelopak bunga, sejak 25 tahun. Sementara itu, awalnya, jalan kecil di barat Pasar Besar itu lebih dikenal sebagai pusat tembakau, dan cikal bakal sejumlah pabrik rokok besar asal Malang. Salah satunya rokok Bentoel yang kini telah dimiliki British American Tobacco (BAT).

Di ruas jalan ini, selain terdapat pedagang bunga dan tembakau, terdapat pula Museum Bentoel, berupa rumah pendiri pabrik Rokok Bentoel, Ong Hok Liong, yang ditempati sejak 1930. Keturunan Tionghoa asal Bojonegoro itu masuk Malang dan menciptakan rokok merek Bentoel, nama salah satu ubi jalar, yang sangat dikenal di wilayah Kabupaten Malang.

Di dalamnya, pengunjung bisa melihat perjalanan Bentoel sejak 1930 hingga beberapa kali beralih kepemilikan, tanpa menghilangkan merek Bentoel. Ada pula sepeda kuno Sundap dan sepeda angin punya Ong Hok Liong yang digunakan berkeliling berjualan rokok, saat merintis usaha barunya.

Pasar Tertua
Pecinan Kecil adalah satu dari sejumlah wilayah yang mengelilingi Pasar Besar Malang. Pasar yang kini berada di Jalan Pasar Besar itu diperkirakan telah ada sejak 1800an. Kala itu, Belanda dan pedagang dari Etnis Tionghoa mulai percaya diri keluar dari wilayah benteng pertahanan mereka, di sekitar Celaket, atau sekitar Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Sekitar tahun 1914, Pemerintah Belanda mulai mengambil alih Pasar Besar dan membangunnya dengan kondisi lebih baik.
 
“Dari laporan pemerintahan Wali Kota pertama Malang, Bussemaker, tahun 1919, disebutkan Belanda mengambil alih pasar. Artinya, Pasar Besar sebelum dibangun Belanda sudah menjadi tempat berkumpulnya pedagang Tionghoa dan etnis lain, selain warga Belanda,” kata Dwi Cahyono, Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Timur, Kamis 12 Maret 2015.

Pada 1920, Belanda pun merenovasi pasar dengan membangun dinding beton di Pasar Besar. Pembangunan selesai 1924 dan pedagang semakin ramai berhimpun di Pasar Besar. Tak hanya etnis Tionghoa, ada pula etnis India, Arab, bahkan pedagang pribumi dari berbagai suku seperti Jawa, Bali, dan juga Madura.

Sejak 1930, menurut pria yang juga pemilik Museum Malang Tempo Doeloe ini, Kota Praja Malang mulai menambah sejumlah pasar baru yang dekat dengan permukiman Belanda setiap dua tahun sekali, seperti pasar Bunul, Oro-Oro Dowo, dan Kebalen. Sekitar tahun 1936, Kota Malang pun memiliki sejumlah pasar tambahan yang tak kalah besar, seperti Pasar Dinoyo dan Pasar Blimbing.

Namun, posisi Pasar Besar tetap istimewa, lantaran lokasinya yang tak jauh dari Stasiun Kereta Api Kota Lama. Dekat juga dengan Comboran, tempat berbagai kereta kuda membawa hasil bumi dari sekitar Malang berhenti, serta terminal oplet, tempat transportasi dalam kota berhimpun.

Halaman Selanjutnya
img_title