Pasar Gede, Ikon Kuliner Warisan Leluhur

Suasana di salah satu sudut Pasar Gede di Solo
Suasana di salah satu sudut Pasar Gede di Solo
Sumber :
  • ecetemelkuran.com/Fajar Sodiq

ecetemelkuran.com - Aroma nangka tercium. Tercampur dengan cendol dan bubur sumsum dalam sebuah mangkok berukuran sedang. Tekstur bubur itu lembut berpadu dengan asam manis tape ketan. Sajian kuliner pun terhidang di sebuah lapak dawet telasih Bu Dermi.

Saat disesap, penikmat seolah enggan melepaskan rasa manis pada kuliner khas di pasar itu. Sejumlah penjaja dawet sejenis menawarkan sensasi lain. Masing-masing punya ciri khas.

Tak heran, kelezatan dawet telasih kini menjadi salah satu ikon kuliner di Pasar Gede. Salah satu pasar rujukan warga Kota Bengawan, Solo.

Pagi sebelumnya, basah embun dan sisa hujan masih melekat pada jajaran lampion yang bergelantung di pelataran pasar itu. Barangkali, pagi masih terlalu segar bagi matahari, sehingga kerjap lampion sisa pesta Imlek beberapa waktu lalu itu, masih memendar.

Tapi, kehidupan di Pasar Gede, Kota Surakarta sudah mulai menggeliat. Tukang becak silih berganti menurunkan penumpang. Keranjang, baskom, dan aneka perkakas lainnya tampak dibawa masuk oleh penumpang yang baru saja turun dari becak.

Tampaknya, mereka adalah pedagang di pasar yang berdiri sejak 1930 itu. Meski pencahayaan masih minim, mereka tampak hafal tiap lekuk pasar ini. Bahkan, letak lubang semut pun mereka tahu, begitu ibaratnya.

Maklum, para pedagang di sini boleh dibilang tumbuh besar bersama Pasar Gede. Para pengusaha ini merupakan pedagang turun temurun.

Ruth Tulus Subekti, misalnya. Dia adalah generasi ketiga dari penjaja Dawet Telasih Bu Dermi. Menurut pengakuannya, dawet legendaris di Kota Solo itu pertama kali dijajakan oleh neneknya.

"Simbah jual dawet sejak pasar ini berdiri. Waktu itu kalau nggak salah, simbah menjual satu bungkus dawet, harganya masih pakai uang sen-senan," ujar wanita yang kerap disapa Bu Utik itu kepada ecetemelkuran.com, Kamis 12 Maret 2015. Kini, seporsi dawet dihargai Rp8.000.

Bu Utik menceritakan, awalnya penjaja dawet ini adalah simbahnya bernama Harjo. Kemudian, usaha dawet beralih ke Bu Dermi yang tak lain adalah ibunda dari Bu Utik. Dia mengaku berdagang di Pasar Gede sejak 2004.

"Resep dawet telasih ini asli resep dari simbah," kata Bu Utik sembari menyebut biji selasih sebagai salah satu bahan utama dawetnya.

Suasana di salah satu sudut Pasar Gede di Solo

Suasana di salah satu sudut Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah.  Foto: ecetemelkuran.com/Fajar Sodiq

Halaman Selanjutnya
img_title