Polisi-polisi Baik

polisi sorot
polisi sorot
Sumber :
  • ecetemelkuran.com/Mohammad Zumrotul Abidin

ecetemelkuran.com - Bicara soal polisi, publik pun langsung teringat lelucon karya mendiang Presiden Abdurrahman Wahid. "Cuma ada tiga polisi yang jujur: polisi tidur, patung polisi, dan Polisi Hoegeng," kata Gus Dur suatu ketika.

Guyonan itu masih relevan hingga kini, sekaligus jadi bahan introspeksi bagi Kepolisian Republik Indonesia. Muncul kesan yang sudah melekat di masyarakat bahwa zaman sekarang langka sekali mencari polisi seperti mendiang Hoegeng Imam Santoso, Kepala Kepolisian RI selama 1968-1971,  yang punya reputasi harum sebagai polisi baik, yaitu profesional dan punya integritas.   

Namun, ecetemelkuran.com menemukan ada sejumlah polisi yang sebenarnya mengikuti teladan Hoegeng. Mereka bukan patung polisi, apalagi polisi tidur, namun selama ini peran mereka kalah populer dengan berita-berita kontroversial para kolega atau atasan mereka yang selama ini lebih banyak mendapat sorotan publik dan perhatian media massa.

Di tengah sorotan negatif nama besar Korps Bhayangkara di mata masyarakat, masih tersisa cerita polisi hebat yang tulus mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Mereka orang-orang langka yang mau meluangkan waktu dan tenaga demi Indonesia yang lebih baik.
 
Di bawah ini ada sepak terjang tiga polisi hebat yang layak ditonjolkan.

1. Polisi Kiai Seribu Santri

Kesehariannya bergelut dengan mayat di dunia forensik tak menyurutkan semangat Aiptu Wazir Arwani Malik melakoni aktivitas mengajar. Berbekal keuletan dan ketelatenan, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah ini tanpa kesulitan membagi waktu antara tugas negara dan mengasuh pondok pesantren Al-Hadi  Girikusuma, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.

Tugas polisi bahkan selalu ia aplikasikan melalui pendidikan pesantren kepada 980 santri yang ia asuh. Hampir seribu.

Pria yang memulai karir sebagai polisi sejak tahun 1992 itu bahkan tak menyangka akan menjadi polisi. Awal karirnya dia  bertugas di Slawi dan pada 1993 pindah ke Polda Jateng hingga sekarang.

"Awalnya saya tidak suka jadi polisi. Sebenarnya ingin jadi TNI AU, tapi gagal,” katanya.

Dia tak ingin jadi polisi lantaran di matanya, polisi itu miring. Banyak keburukannya. Namun, setelah didalami, ternyata pekerjaan ini sejalan dengan ilmu agama yang dia pelajari sejak kecil.

Menurutnya, tugas polisi merupakan amanah negara yang sudah termaktub dalam ilmu Agama. Wajar dia bias mengatakan demikian karena Wazir mahir berbahasa arab dan punya ilmu menafsirkan Alquran.

Ketertarikannya mengabdi di dunia pesantren sekaligus sebagai polisi, karena dia besar dan tumbuh di lingkungan  keluarga santri, sehingga dia merasa mengajar bukan pekerjaan, melainkan kewajiban. "Saya lebih konsen pada pendidikan sore dan malam hari. Itu saja kalau sedang tidak ada dinas luar dan mendadak,” kata pria kelahiran Demak, 28 Februari 1968 ini.

Selain mengajar santri, dia juga menjadi dosen terbang untuk mata kuliah olah TKP di sejumlah perguruan tinggi. Hanya saja dosen tamu ini tak sesering mengajar di pesantren yang bisa dibilang hamper tiap hari.

Selama 20 tahun lebih berstatus polisi dan kiai, Wazir mengaku respons masyarakat terhadapnya tak semudah membalikkan telapak tangan. Pemahaman miring masyarakat terhadap polisi kerap menjadi tantangan yang harus dijawab. Sorotan negatif publik mengenai profesi polisi ini bahkan menjadi pekerjaan yang penuh perjuangan untuk memberi pemahaman kepada mereka.

"Sebenarnya kalau disikapi dengan benar, profesi polisi itu penuh pahala.”

Cibiran masyarakat yang menilai negatif profesi polisi diakuinya sering dialamatkan kepadanya. Namun, hambatan itu ia jawab dengan sikap dan teladan.

Khususnya melalui pendidikan yang kerap diajarkan. "Pada intinya bagaimana polisi harus membuktikan lewat gebrakan. Polisi harus jadi pelindung dan pengayom masyarakat. Bukan retorika dan teoritik dan slogan di jalan-jalan semata, " ujar dia.

Sebagai pegawai polisi dia bahkan tak pernah berharap memperoleh pendapatan lebih. Sebab tanggungjawab yang diemban tak sepadan dengan gaji. Tapi dia bias mensiasati dengan hidup sederhana. "Kalau mau jadi pegawai ya sederhana. Kalau ada polisi yang hidup berlebih, saya tidak tahu (itu uangnya dari mana),” kata Wazir yang kesehariannya menganalisa mayat melalui visum dan autopsi.

Dia tak malu mengendari sepeda motor saat berangkat dan pulang kerja, dari Semarang ke Mranggen, Demak.  "Saya tak punya mobil. Hidup ini tak perlu mewah-mewah,” katanya.

Soal kesederhanaan ini, M Lutfil Hakim, salah satu santri di Girikusuma,  kesederhanaan Wazir makin membuat kebanggan bahwa polisi sangat dekat dengan masyarakat. "Kalau di sini bapak jarang pakai seragam, dan hidupnya sangat sederhana. Pengetahuan agamanya luas," kata Lufil.

Menjelang 17 tahun reformasi Polri, Wazir memiliki secercah keinginan. Dari lubuk yang paling dalam ia berharap lembaga Polri semakin baik. Akselerasi Presiden Jokowi tentang reformasi mental bisa tertanam di hati para perwira Polri dengan tetap berpegang teguh pada Agama.

"Agama itu jadi titik sentral. Kalau polisi memahami agama dengan baik, maka tugas yang diamanahkan juga bagian dari ibadah,” katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title