Rindu Berlebaran di Sampang

puasa sorot syiah sampang
puasa sorot syiah sampang
Sumber :
  • ecetemelkuran.com/Muhammad Zumrotul Abidin

ecetemelkuran.com - Sore itu, suasana di Rumah Susun Puspa Agro, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, tampak lengang. Hanya ada beberapa anak-anak, yang tampak mengerumuni pedagang ikan hias di halaman bangunan berlantai lima itu.

Mereka lantas berlarian masuk bangunan bercat biru muda itu. Mereka membawa ikan-ikan itu ke dalam petakan. Suasana di dalam sedikit sibuk, tampak para ibu tengah memasak, menyiapkan hidangan berbuka puasa.

Ada kerumunan bocah di sudut ruang di lantai tiga. Empat-lima anak tengah asyik mengerumuni ikan hias di sebuah toples kecil. Terlihat asik. Menunggu bedug Magrib.

Namun, setelah diamati, kebahagiaan itu tidak benar-benar terpancar dari wajah mereka. Saat bedug ditabuh tanda waktu berbuka puasa, tak ada kolak di meja. Jangankan kolak dan aneka penganan, nasi beras saja tak ada. Cuma nasi jagung.

Padahal, bagi bocah SD yang sedang belajar  puasa tentu yang diharapkan makanan berlimpah. “Lebih enak di kampung ,” kata Muhammad Muin, salah satu anak itu.  

Ungkapan polos bocah 8 tahun itu mewakili perasaan terdalam ratusan pengungsi Syiah Sampang, Madura, yang sudah dua tahun hidup di pengungsian, di Rusun Puspo Agro.

Mereka cukup berbuka dengan nasi jagung khas Madura. Yaitu nasi putih yang dicampur dengan jagung. Lauknya pun sederhana, ikan asin dan sambal.

Untuk anak - anak, yang ingin mendapatkan takjil harus antre di masjid bersama warga rusun lain. Mereka adalah imigran dari Afganistan. Itu pun jatahnya terbatas.

Setelah berbuka, para pengungsi menjalankan taraweh, yang dilanjutkan dengan tadarus di emperan rusun. Para laki laki di lantai 5, perempuan di lantai 4.

Koordinator pengungsi Syiah Sampang, Iklil Al Milal, mengatakan Ramadhan kali ini merupakan puncak kerinduan para pengungsi pada kampung halaman. Bagaimana tidak, di Sampang sana, mereka punya ladang yang bisa ditanami dan menghasilkan padi. Tidak seperti di pengungsian ini.

Ramadhan bagi para pengungsi Syiah Sampang memang tak begitu indah. Tak seperti yang dirasakan sebagian besar umat Islam lainnya. Para pengungsi, tidak bisa menikmati Ramadhan seperti muslim yang lain.

Saat sahur, mereka juga makan seadanya. Sebab, jatah hidup yang diberikan pemerintah hanya cukup untuk makan. Kenyataannya, mereka butuh membayar sekolah dan lainnya.

Iklil mengaku, di sela-sela waktu santai sering menerima pertanyaan-pertanyaan menohok dari para pengungsi yang usianya di atas 70 tahun. Mereka sering nyeletuk kepada Iklil soal nasib mereka.

“Mereka bertanya, sampai kapan kita di sini. Jika kami mati, kami akan dikubur di mana,” ujar Iklil menirukan pertanyaan terdalam para pengungsi yang sudah tua.

Iklil, yang juga sebagai ustaz bagi mereka, hanya bisa menjawab dengan niat menghibur. “Hidup ini sudah ada yang menggariskan.

Di mana pun kita meninggal dan dikuburkan, semua sudah kehendak Allah. Tapi kita harus berikhtiar, kita pasti pulang,” begitu jawaban Iklil yang sering menjadi senjata untuk melegakan kerinduan mereka pada kampung halaman.

Dia menyadari betul perasaan mereka, sebab dia dan keluarganya juga senasib, hidup dalam pengungsian. Namun, yang kini menjadi pemikiran utama Iklil adalah masa depan anak-anak. Ketika anak-anak bertanya, mengapa rumah dibakar dan mengapa tidak pulang ke rumah, Iklil berusaha terus meredamkan kecamuk dendam yang menempel di benak anak-anak yang kini mulai tumbuh.

“Anak-anak harus dijauhkan dari dendam. Caranya, dengan mengatakan bahwa rumah mereka tidak dibakar, biar kelak tidak jadi pendendam. Ketika tanya kapan pulang, saya jawab tunggu saja, kita pasti pulang,” katanya berkisah.

puasa sorot syiah sampang

Anak - anak yang ingin mendapatkan takjil harus antre di masjid bersama warga rusun lain. Foto: ecetemelkuran.com/Muhammad Zumrotul Abidin



Bergantung pada Jatah

Konflik Sunni-Syiah di Sampang, Madura, terjadi sejak 2004. Konflik ini berujung pada tindak kekerasan yang terus berulang.

Terakhir pada Minggu, 26 Agustus 2012, terjadi pelemparan batu dan pembakaran 37 rumah pengikut Syiah. Satu tewas dan belasan luka-luka dalam peristiwa itu.

Sudah dua tahun ini, sejak 20 Juni 2013, para pengungsi Syiah Sampang berada di Rusun Puspa Agro. Sebelumnya, mereka tinggal di GOR Sampang selama sembilan bulan.

Di pengungsian, sebanyak 333 dari 75 keluarga mendapatkan jatah hidup bulanan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Jumlahnya tidak banyak, Rp709 ribu per orang.  

Mereka termasuk anak-anak pengungsi yang belajar atau nyantri di pesantren di Jepara Jawa Tengah, dan Bangil Pasuruan. Selain jatah hidup, mereka juga mendapat Jamkesda serta pemukiman.

Namun, dari jatah uang tunai bulanan itu, mereka merasa belum cukup untuk menebus kebahagiaan yang tercerabut selama dua tahun dari kampung halaman. Dari uang itu mereka mencoba berkreasi di luar pengungsian. Selain mencoba memutar uang, juga untuk mencari pengalaman.

“Uang ini hanya untuk makan sehari-hari. Untuk kebutuhan lain, kita harus kerja,” kata Kholis, salah seorang pengungsi.

Dari bantuan itu, sebagian para pengungsi yang muda-muda mendirikan pangkas rambut dan jualan sate. Hasilnya lumayan, ada yang mendirikan warung sate ada juga yang dagang keliling. Untuk potong rambut, sudah ada beberapa yang mendapatkan kontrakan di Sidoarjo.

Sedangkan untuk kaum tua, mereka bekerja mengupas kelapa di Pasar Puspa Agro. Pekerjaan ini juga tidak menentu, karena jika ada barang maka ada pekerjaan. Dari mengupas kelapa, mereka bisa menerima upah antara Rp30 -50 ribu.   

“Kalau kupas kulit kelapa bagian luar dilakukan di pasar. Tapi, untuk kupas kulit bagian dalam, bisa dilakukan para perempuan di belakang rusun,” kata Iklil.

Iklil juga mengaku sekarang ini sudah tidak ada masalah dengan hubungan dengan para tetangga rusun yang bukan Syiah. “Kami sering saling mengundang saat menggelar acara. Mereka mengundang tahlilan, kami juga datang,” katanya.

puasa sorot syiah sampang

Sejak 20 Juni 2013, para pengungsi Syiah Sampang berada di Rusun Puspa Agro. Sebelumnya mereka tinggal di GOR Sampang selama sembilan bulan.  Foto: ecetemelkuran.com/Muhammad Zumrotul Abidin



“Kandang bebek”

Menggapai ilmu di pengungsian penuh dengan keterbatasan. Sebab, fasilitas pendidikan untuk anak-anak di pengungsian hanya disediakan tiga kelas.

Ironisnya, tiga ruang kelas itu untuk menampung pendidikan dari jenjang pendidikan usia dini hingga sekolah dasar kelas 6. Pendidikan SD di 6 tingkatan kelas dijadikan dua lokal. Sedangkan, PAUD dan TK jadi satu ruang.

Penampakan pendidikan sistem kelas ‘kandang bebek’ itu diperparah dengan hadirnya sumber daya manusia (SDM) yakni para guru yang disediakan pemerintah setempat. Para guru hanya mengajar seadanya dengan jam yang tidak rutin baik kedatangan maupun waktu mengajar.

Setiap hari cuma ada tiga guru. Kadang guru SD tidak datang, guru TK yang menggantikan. “Kadang ada yang mengajar cuma setengah jam, atau paling lama satu jam,” katanya.

Untuk pendidikan anak ini, mulanya Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mengusulkan untuk menggabungkan anak-anak pengungsi Syiah untuk sekolah SD di luar pengungsian. Namun, karena alasan keamanan, Pemerintah Provinsi Jatim tidak mengizinkan.

“Mereka benar-benar dibatasi. Ada dua anak, awalnya sekolah di SD sekitar sini. Karena waktu itu dia kelas 6 SD mau ujian, jadi disekolahkan di luar. Ternyata mereka dirisak [bully] oleh teman-teman. Dikatai 'sesat-sesat' begitu,” kata Muat Muhammad, Sekretaris Ahlul Bait Indonesia.

Tidak hanya itu, perpustakaan keliling yang saat pertama mereka mengungsi didatangkan pemerintah, kini sudah tidak ada. Hanya jika ada kunjungan dari pejabat pemerintah pusat baru perlengkapan itu dipajang di pengungsian.

“Kalau ada kunjungan menteri jadi lengkap semua. Ada mobil BPBD, ambulans, dan perpustakaan keliling,” kata Muat.

Untuk membantu kelangsungan pendidikan ini, para organisasi kemasyarakatan seperti Kontras telah mengupayakan bantuan pendidikan untuk anak-anak. Salah satunya Kontras bekerja sama dengan fakultas psikologi Universitas Surabaya  untuk mengirim mahasiswanya membantu anak-anak.

“Ini sudah berjalan sebelum puasa. Selain pendidikan, mereka harus dipulihkan psikologisnya,” kata Koordinator Kontras Surabaya, Fatkhul Khoir.

Namun, yang jelas, mereka harus dikembalikan ke kampung halaman. Mereka ingin kembali hidup layak, tidak mau lagi bergantung pada bantuan. (ren)

Halaman Selanjutnya
img_title