Televisi Pengajar Kekerasan

Tempat Penitipan Anak
Tempat Penitipan Anak
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

ecetemelkuran.com - Tragedi Reza Ikhsan Fadillah, yang meninggal dunia akibat di-smackdown kakak kelasnya pada 2006 silam, terulang lagi pada 2015. Kali ini korbannya berinisial NA.

Dia baru bocah 8 tahun, siswa SD Negeri 07 Pagi, Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta. NA meregang nyawa setelah dihajar teman sekolahnya pada 18 September 2015.

Dia langsung tak bergerak setelah kepalanya dipukul, ditendang, dan diinjak oleh temannya, yang berinisial R, juga berumur 8 tahun. Kejadiannya berlangsung di dalam ruang kelas.

Belum diketahui pasti sebab musabab peristiwa itu. Namun, menurut para saksi, korban dan pelaku terlihat sering saling ejek, lalu berkelahi.

Sembilan tahun lalu, Reza Ikhsan Fadillah mengalami peristiwa serupa dengan NA. Dia dibanting, kepalanya dihujamkan ke lantai, dan kemudian tangannya ditekuk.

Murid kelas tiga SD di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu diperlakukan begitu karena teman-temannya meniru tayangan berkelahi bebas bohong-bohongan SmackDown pada sebuah stasiun televisi.

Kekerasan berujung maut yang dialami NA ditengarai masih ada hubungan dengan tayangan televisi. Acaranya bukan lagi gulat "SmackDown," karena siaran itu sudah ditiadakan tak lama setelah musibah yang menimpa Reza Ikhsan.

Namun, di televisi, banyak tampil tayangan-tayangan perkelahian atau semacamnya, yang bisa mengilhami anak-anak. Mereka mengingatnya dengan detail adegan-adegan itu, lalu menirunya ketika di sekolah atau tempat bermain.

Prasangka itu bukan tanpa dasar. Publik mafhum, banyak tayangan televisi yang menampilkan adegan kekerasan, tak hanya yang vulgar seperti SmackDown tetapi juga yang samar-samar seperti suatu tayangan sinetron yang menampilkan adegan perkelahian. 

Tayangan itu berdampak fatal. Hasrandra, bocah SD, meninggal dunia pada 30 April 2015. Dia ditendang dan dipukul teman-temannya, seperti yang mereka lihat dalam sinetron lokal tersebut.

Siaran bermuatan kekerasan tak lagi didominasi film atau serial impor, tetapi juga sinetron maupun reality show produksi lokal. Waktu penayangannya pun dianggap berpotensi besar ditonton anak-anak. Ditambah kepedulian orang tua yang masih minim sehingga abai mengontrol tontonan bagi anak-anak mereka.

Televisi berperan besar

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Advianti, membenarkan prasangka bahwa televisi berpengaruh besar pada perilaku anak-anak. Apalagi anak-anak dapat menonton televisi kapan pun, di rumah atau di tempat lain di lingkungannya.

Anak-anak, kata Maria, pada dasarnya hanya meniru. Perilaku itu bisa mereka dapatkan dari kedua orang tua di rumah. Anak yang hidup dalam keluarga yang taat beribadah, sedikit atau banyak akan turut rajin beribadah. Begitu juga sebaliknya.

Anak-anak yang meniru-niru adegan kekerasan, boleh jadi terilhami perilaku serupa yang dilihatnya dari orang tuanya. Misalnya, orang tua yang bertengkar.

Namun, tetap saja, potensi besar ada pada televisi. Orang tua yang, umpamanya, sibuk bekerja di luar rumah akan berkurang waktunya untuk anak-anak mereka.

Halaman Selanjutnya
img_title