Nasionalisme Darah Campuran

Gloria di Tim Bima.
Gloria di Tim Bima.
Sumber :

ecetemelkuran.com "Saya tidak pernah memilih kewarganegaraan Perancis, karena darah dan nafas saya untuk Indonesia tercinta."

Penggalan isi surat Gloria Natapraja Hamel kepada Presiden Joko Widodo ini sangat mengharukan. Surat itu ditulis 13 Agustus 2016, empat hari sebelum Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-71.

Seyogyanya Gloria akan membawa baki di acara pengibaran bendera pusaka di Istana Negara. Namanya masuk jajaran 68 anak Indonesia dari seluruh Nusantara yang terpilih lewat seleksi maha ketat sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka skala nasional.

Namun apa hendak dikata, impian remaja berambut ikal yang lahir di Jakarta 1 Januari 2000 ini terkoyak. Darah campuran yang mengalir di tubuhnya jadi batu sandungan. Gloria ketahuan memiliki paspor Perancis setelah para anggota Paskibraka mengumpulkan berkas untuk keperluan administrasi studi banding ke Malaysia pada 21 hingga 28 Agustus 2016.

Lewat diskusi panjang antara Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Garnisun dan Kemenkum HAM, diputuskan nama Gloria dieliminasi dari daftar Paskibraka nasional.

Gloria Natapraja Hamel di Kantor Kemenpora

Saat 67 teman-temannya menjalani ritual suci pengukuhan sebagai anggota Paskibraka 2016 oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Senin 15 Agustus 2016, Gloria terasing sendirian di asrama PP PON, Cibubur, Jakarta Timur. Di tempat ini selama berbulan-bulan Gloria ditempah, di bawah disiplin yang sangat ketat.

Terganjal statusnya sebagai anak hasil perkawinan campuran, Gloria yang tidak pernah memilih dari rahim siapa ia dilahirkan membela diri. "Saya ditakdirkan terlahir dari perkawinan antara ibu saya yang bernama Ira Narapraja (Warga Negara Indonesia) dengan ayah saya yang bernama Diedier Hamel (Warga Negara Perancis)."

Meski belum genap 18 tahun, saat ia harus memutuskan ikut kewarganegaraan ayah atau ibunya, kepada Presiden Jokowi, Gloria berikrar hanya Indonesia pilihannya.

Halaman Selanjutnya
img_title