Ulah Trump Hingga Tragedi Rohingya

Foto Donald Trump yang dicoret dan dibakar oleh para peserta aksi unjuk rasa
Foto Donald Trump yang dicoret dan dibakar oleh para peserta aksi unjuk rasa
Sumber :
  • REUTERS/Muhammad Hamed

VIVA – Tiba di penghujung 2017,  sejumlah peristiwa besar telah menggemparkan dunia. Muncul pula tokoh-tokoh kuat yang tergolong baru di jagat mayapada, namun sensasional dan sanggup mengubah konfigurasi tatanan politik dan keamanan internasional - yang awalnya cenderung stabil, kini belakangan menjadi rentan konflik. Yang relatif damai, akhirnya menjadi ricuh.

Kondisi dunia tarikh terakhir ini sebenarnya masih berkecamuk pada isu-isu yang sama. Persaingan senjata menyoal sengketa teritorial, isu terorisme, pengungsi dan tak ketinggalan konflik negara dan kawasan. Pada akhirnya berdampak pada masalah kemanusiaan.

Sementara perang proxy juga masih nyata terasa di tengah polarisasi kekuatan negara-negara great power seperti Amerika Serikat, Rusia dan China. Juga munculnya potensi kekuatan baru di dunia dengan laju ekonomi pesat yang otomatis berkonsekuensi pada kekuatan pertahanan yang kian berdegap.

Namun tak bisa dipungkiri, tahun 2017, animo warga dunia juga terbagi ke isu Asia Timur khususnya Korea Utara. Korut tahun 2017 ibarat anak nakal nan pembangkang yang seolah-olah tak takut diisolasi oleh dunia karena senjata nuklirnya.

Kim Jong Un Beri Penghargaan untuk Ilmuwan Pembuat Hwasong-15

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong bersalaman dengan sejumlah ilmuwan saat memberi mereka pengharagaan medali dalam Konferensi Industri Amunisi ke-8 di Pyongyang. (KCNA/via REUTERS)

Berkali-kali disanksi PBB tak membuat Korea Utara jera. Apalagi perang urat saraf antara Kim Jong-un dan Presiden baru Amerika Serikat, Donald Trump, terus berlanjut.

[Baca juga: Korut Dicurigai Lagi Kembangkan Senjata Biologis Antraks]

Menjelang akhir warsa, perhatian bergeser kembali ke Timur Tengah. Wilayah yang senantiasa bak api dalam sekam itu lagi-lagi panas dan bergolak. Masalah kembali menerpa Yerusalem. Kota yang menjadi situs lahirnya tiga agama samawi itu kembali berada di titik perdebatan dan konfrontasi setelah Amerika Serikat mengakuinya sebagai ibu kota Israel dengan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke sana.

Kebijakan itu menggoreskan kembali luka lama konflik Timur Tengah, yang hingga kini belum selesai. Gelombang protes di berbagai penjuru dunia atas kebijakan AS itu masih berlangsung hingga akhir 2017 ini dan sudah memakan korban jiwa di Timur Tengah.

Halaman Selanjutnya
img_title