Stigma Gangguan Kesehatan Mental: Berakhir Sekarang atau Tidak Sama Sekali

Stigmatisasi kesehatan mental yang masih sangat mengakar di kehidupan sosial kita  (Shutterstock)
Stigmatisasi kesehatan mental yang masih sangat mengakar di kehidupan sosial kita (Shutterstock)
Sumber :
  • vstory

VIVA – Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar frasa “gangguan kesehatan mental”. Semoga yang terlintas di pikiran bukan lah kata-kata seperti “berbahaya”, “lemah”, “keterbelakangan mental”, “kurang iman”, atau bahkan “orang gila”. Akan tetapi, sayang seribu sayang, pada realitanya, narasi-narasi tersebut lah yang justru sangat melekat dengan frasa gangguan kesehatan mental.

Ketika frasa “gangguan kesehatan mental” mencuat di kehidupan bermasyarakat, stigma-stigma tertentu kerap kali muncul. Mereka, para penderita gangguan kesehatan mental, kerap dihakimi sebagai orang yang tidak bersyukur atas kehidupannya, orang yang tidak punya pendirian, bahkan sebagai orang yang jauh dari agama ataupun Tuhan. Stigma yang masih sangat melekat dalam kehidupan sosial ini lah yang membuat mereka enggan untuk meminta bantuan dan dukungan dari keluarga, teman, ataupun tenaga profesional. Padahal, semakin cepat seseorang mendapatkan bantuan, akan semakin baik hasil yang didapatkan.

Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2021, secara global, satu dari tujuh anak berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, menyumbang 13?ri beban penyakit global pada kelompok usia ini. Bahkan, menurut The Lancet Psychiatry, jika beban penyakit global mempertimbangkan cakupan penuh dari konsekuensi kesehatan mental, proporsi tahun hidup dengan kecacatan akibat gangguan kesehatan mental dapat melonjak dari 21% menjadi 32%.

Dari sisi data nasional, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dari 6% pada tahun 2013 menjadi 9,8% pada tahun 2018. Data-data tersebut memperlihatkan betapa gentingnya permasalahan kesehatan mental baik secara nasional maupun global. 

Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya prevalensi gangguan kesehatan mental adalah stigma yang masih mengakar di kehidupan sosial. Stigma kesehatan mental mengacu pada ketidaksetujuan masyarakat atau ketika masyarakat mendiskreditkan dan mendiskriminasi orang yang hidup dengan gangguan kesehatan mental ataupun orang yang mencari bantuan karena tekanan emosional, seperti kecemasan, depresi, gangguan bipolar, atau PTSD.

Stigma kesehatan mental dapat berasal dari stereotip, yang merupakan keyakinan atau representasi yang disederhanakan atau digeneralisasi dari seluruh kelompok orang, yang seringkali tidak akurat, negatif, dan menyinggung. World Health Organization (WHO) pada tahun 2001 menyatakan bahwa stigma adalah salah satu hambatan terbesar bagi para penderita dalam keterlibatan pengobatan terhadap gangguan kesehatan mental, meskipun pengobatan telah terbukti efektif, bahkan di negara berpenghasilan rendah. 

Stigma kesehatan mental bukan hanya masalah interpersonal, melainkan adalah sebuah krisis kesehatan. Semakin mengakar stigma kesehatan mental, akan semakin sulit juga upaya penekanan prevalensi gangguan kesehatan mental. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi sekaligus menghilangkan stigma kesehatan mental?

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna ecetemelkuran.com yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.