Festival Indonesia Bertutur 2022, Ajang Komunikasi Pecinta Seni

Festival Indonesia Bertutur ramaikan event G20 di Borobudur Magelang, Jawa Tengah
Festival Indonesia Bertutur ramaikan event G20 di Borobudur Magelang, Jawa Tengah
Sumber :
  • vstory

VIVA – Suara riuh dan euforia menyambut kehadiran penyanyi Indonesia, Tulus, saat tampil membawakan lagu berjudul Satu Kali di panggung Indonesia Bertutur 2022. Tulus tampil menjadi salah satu bintang tamu dalam festival musik terbesar yang diselenggarakan di Taman Lumbini Komplek Wisata Candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah. Kehadiran Tulus seolah mengobati kerinduan para penggemarnya yang hampir tiga tahun ini tertahan akibat pandemi Covid-19.
 
Tidak hanya Teman Tulus, pecinta gigs dan konser musik pada umumnya juga bisa kembali menikmati alunan music live setelah aturan pandemi melonggar soal kerumunan dan keramaian. Mereka bisa kembali merasakan sensasi serunya menonton konser, mendengarkan lagu, sambil ikut bernyanyi ketika Tulus membawakan tembang-tembang populernya. Sebut saja, Monokrom, Ruang Sendiri, Sepatu, dan Hati-Hati di Jalan yang baru-baru ini rilis.
 
Selain Tulus, terjadwal pula musisi lain seperti Letto, Ardhito Pramono, Om Wawes, serta penampilan seniman lainnya. Tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga 17 negara berbeda turut memeriahkan Festival Indonesia Bertutur yang menjadi rangkaian event G20 di Borobudur.
 
Para pecinta musik dan seni seolah tidak menghiraukan cuaca hujan, mereka bahkan sudah bersiap dengan ponco atau jas hujan supaya bisa tetap menikmati alunan musik yang ditampilkan.
 
Ikon Laura Basuki dan Media Tour
 
Laura Basuki menjadi Ikon Indonesia Bertutur 2022. Laura yang hadir dalam Media Tour, rangkaian event Indonesia Bertutur mengungkap kecintaannya terhadap seni dan budaya Indonesia. Ia mengungkapkan selalu menyempatkan diri mengunjungi cagar-cagar budaya yang ada di sekitar lokasi syutingnya. Ketika syuting di beberapa kota berbeda, Laura mencari https://www.viva.co.id//vstory/opini-vstory/1534219-festival-indonesia-bertutur-2022-ajang-komunikasi-pecinta-seni tentang keberadaan cagar budaya setempat. Kemudian saat libur syuting, dia menyempatkan diri mengunjunginya. Laura mengaku bisa mendapatkan pengalaman berbeda dan mengambil nilai-nilai spiritual yang ada pada masing-masing cagar budaya tersebut.
 
Perempuan yang sudah menuai sejumlah penghargaan di bidang perfilman, saat itu juga mengenakan pakaian etnik berpadu celana bermotif batik lurik. Artis Indonesia keturunan Jawa, Tionghoa dan Vietnam ini kerap menunjukkan kecintaannya dengan pakaian bernuansa etnik yang dikenakannya. Ia suka mengenakan busana-busana rancangan desainer lokal seperti Oscar Lawalata.
 
Dalam Media Tour ini, para jurnalis dari berbagai media diajak mengunjungi dua galeri seni budaya di Magelang, yaitu Eloprogo Art House dan Museum Haji Widayat. Para tokoh seni unjuk gigi menampilkan pertunjukan ritual air dan tarian budaya. Selain itu di Museum Haji Widayat, ditampilkan karya busana etnik dari desainer asing, juga dipamerkan miniatur kapal Samudera Raksa dan pertunjukan video wall tentang peradaban budaya masa lalu. Hal ini sesuai dengan tema Indonesia Bertutur: “Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan”.
 
Pengalaman Nonton Indonesia Bertutur
 
Indonesia Bertutur menyajikan sejumlah pertunjukan seni tradisional, kontemporer, hingga media baru. Kemendikbudristek merancang festival ini sebagai sarana menjaga budaya berkelanjutan dan cagar budaya sebagai ilmu pengetahuan. Rencananya, Festival Indonesia Bertutur akan diselenggarakan rutin dua tahun sekali sebagai wujud upaya memajukan ekosistem budaya.
 
Festival Indonesia Bertutur menampilkan 20 cagar budaya, yaitu Sangiran, Liang Bua, Leang-Leang, Gugus Misool (Raja Ampat), Sangkulirang, Lore Lindu, Kutai, Tarumanegara, Kompleks Candi Dieng, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Prambanan, Candi Gunung Kawi, Muara Takus, Muaro Jambi, Candi Jago, Candi Singosari, Trowulan, dan Candi Bahal.
 
Lebih istimewa lagi, event ini diselenggarakan berbarengan dengan event G20 di Borobudur. Indonesia Bertutur digelar pada 7-11 September 2022, dilanjut dengan Culture Ministers Meeting pada 12-13 September masih di Kawasan Borobudur.
 
Borobudur memang memiliki sejuta pesona yang membuatnya selalu dirindukan. Sebelumnya, kawasan destinasi wisata super prioritas ini juga pernah dikunjungi delegasi G20, tepatnya di Balkondes Karangrejo Borobudur pada 24 Maret 2022. Para delegasi G20 mengapresiasi dan mengagumi balkondes binaan Pertamina ini dengan konsep Desa Energi Berdikari di Kawasan wisata Candi Borobudur.
 
Kebangkitan Komunikasi Seni di Tengah Pandemi
 
Sebelum era pandemi, Kabupaten Magelang terhitung sering menggelar event-event seni budaya dan pariwisata. Sebut saja Festival Kuliner Magelang, Festival Telaga Bleder, Ketep Summit Festival, Festival Lembah Merapi, Festival Lima Gunung, dan masih banyak lagi. Tak hanya itu, Kabupaten Magelang juga memiliki pasar-pasar tradisional yang digelar pada weton tertentu, seperti Pasar Watugede Bandongan yang digelar setiap Minggu Legi dan Minggu Pahing. Ada pula Pasar Tradisi Lembah Merapi di Desa Banyubiru, Dukun yang hanya buka setiap hari Minggu.
 
Selama pandemi, semua event tersebut terpaksa dihentikan. Sektor pariwisata terdampak paling besar. Ekonomi masyarakat melemah dan lesu.
 
Namun, kini aturan soal protokol kesehatan sudah melonggar, jumlah pasien covid-19 berangsur menurun. Aktivitas masyarakat pun perlahan kembali normal. Event-event seni budaya dan pariwisata di Kabupaten Magelang pun kembali digelar. Tidak hanya festival lokal, tapi juga event bertaraf internasional kembali menjamur.
 
Dalam event Indonesia Bertutur, salah satu seniman Borobudur, Sucoro mengaku bahagia karena bisa kembali bertemu dengan pelaku seni dan budaya untuk bisa kembali menampilkan berbagai karya seni rupa. Mereka bisa kembali berkomunikasi dan menuangkan ide-ide segarnya dalam ruang yang lebih leluasa, meski masih harus menerapkan protokol kesehatan.
 
Rangkaian Festival Indonesia Bertutur pun digelar selama lima hari dan dibagi dalam beberapa titik lokasi pusat seni, yaitu Candi Borobudur, Eloprogo Art House, Museum Haji Widayat, Limanjawi dan Apel Watu Galery. Tujuannya adalah untuk memberi ruang yang lebih luas bagi para seniman agar bisa mengkomunikasikan karya-karyanya. Gaya komunikasi seniman pun berbeda-beda, ada yang menuangkannya dalam bentuk lukisan, konser musik, karya seni rupa, desain pakaian etnik nan unik, tari kontemporer hingga pertunjukan video mapping.
 
Para pengunjung pun diberi kebebasan memilih pertunjukan seni yang ditampilkan. Ada yang memilih menikmati seni lukis dan seni rupa dalam sebuah museum. Di waktu yang sama, para pecinta seni musik ada yang rela hujan-hujanan demi menikmati alunan musik dari musisi idolanya. Dalam konteks inilah para seniman dan penggemarnya melakukan seni komunikasi dengan gayanya masing-masing. Proses dinamika dalam masing-masing pertunjukan tersebut menggambarkan adanya komunikasi khusus antara seniman dan penggemarnya.
 
Setiap fase pertunjukan akan direspons berbeda oleh tiap penggemarnya. Input dari seniman, dalam hal ini sebagai komunikator akan dinikmati dengan cara berbeda oleh penggemarnya, dalam hal ini komunikan. Proses pemindahan pesan terjadi di sini, dalam bentuk komunikasi seni. Hal ini sesuai dengan konsep Marco de Marinis (1983) yang menyebutkan bahwa proses komunikasi tidak harus dalam bentuk timbal balik antar komunikator dan komunikan. Namun bisa juga satu arah seperti komunikasi seni ini. Hal ini mirip dengan komunikasi di media massa, yang sifatnya satu arah ke publik, namun tetap bisa diterima dan dimaknai oleh pembaca, penonton, ataupun pendengarnya.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna ecetemelkuran.com yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.