Peradaban Beserta Penjajahan, Beriringan atau Bertolak Belakang?

sebuah gambar peradaban kolonial di yogyakarta.
sebuah gambar peradaban kolonial di yogyakarta.
Sumber :
  • vstory

VIVA – Perbedaan pola penataan kota pada pusat kota Jawa dan kolonial salah satunya dapat dilihat dari orientasi kaja, kelod, kangin dan, kauh. Keempat nilai ini dianggap sebagai hal yang mistis dan sakral dalam kepercayaan Hindu pada masa itu. Kemampuan untuk merancang pemukiman berdasarkan sebuah kepercayaan yang sudah ada adalah bukti kejelasan pola tata kota Jawa yang sistematis. Perancangan pola kota ini bersifat dinamis, menyesuaikan dengan era kerajaan pada masanya, salah satu yang paling menonjol adalah pada masa kerajaan Islam.

Salah satu kepercayaan dalam tata kota pada masa kerajaan islam bernama catur gatra, yaitu sebuah kesatuan tata kota yang tersusun oleh 4 bangunan yaitu keraton, masjid, alun-alun, dan pasar. Catur gatra sering digunakan karena 4 bangunan tersebut dianggap mampu untuk mencerminkan karakter dan wajah sebuah kota.

Yogyakarta adalah salah satu yang memakai kepercayaan ini dengan sedikit perubahan menjadi catur sagatra yakni persatuan keempat bangunan tersebut menjadi 1 unit. Yang paling menarik dalam konsep catur sagatra ini adalah perpaduan bangunannya dalam interaksi masyarakat. Realisasi akan interaksinya dapat terlihat pada penempatan ruang publik yang berada di depan keraton, berbeda dengan penataan kota kolonial belanda yang dibangun secara individual atau mandiri.

Pengembangan tata kota Indonesia pada masa pendudukan Belanda bersifat memihak, khususnya terhadap kaum kulit putih. Karakteristik ini memprioritaskan penduduk Belanda dibandingkan masyarakat Jawa, dan kualitas tata kotanya mengikuti latar belakang ini.

Bangunan yang dibuat pada masa itu merupakan upaya untuk memberikan kenyamanan yang lebih besar bagi pihak kolonialis, contohnya dapat dilihat dalam pembangunan berbagai fasilitas seperti bioskop, menara air, alun-alun, balai kota, perumahan, dan tempat ibadah. Kotabaru Yogyakarta yang dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Thomas Karsten, memiliki tujuan menjadi kawasan elit yang bertema kota taman yang berpola radial.

Perbandingan antara kedua karakteristik perancangan ini bersifat beriringan. Arsitektur Jawa pada masa itu menunjukkan simplisitas dalam penataan sebuah kota dengan penggunaannya arah mata angin sebagai titik acuan tempat serta sarat akan makna simbolisasi. Arsitektur kolonial yang menunjukkan kerumitan dalam perancangan dengan teknologi dan pendidikan yang lebih maju melontarkan ide pembangunan yang lebih ergonomis dan efektif. Kota Yogyakarta merupakan contoh dari perbedaan antara pembangunan Jawa dan kolonial Belanda, baik pada masa awal pembangunannya maupun perubahan setelahnya. Penduduk Jawa lebih menyimpang ke norma-norma agama yaitu seperti pembangunan mushola dan tempat ibadah, sedangkan masyarakat kolonial lebih menyimpang terhadap hal-hal yang teknis dan nyata.

Kesimpulannya, perancangan pemukiman Jawa dan pemukiman kolonial dipengaruhi oleh latar belakang penduduk yang menempatinya. “A good architecture should fit in inhabitants” adalah sebuah kalimat yang menunjukkan fleksibilitas tata bangunan dalam kehidupan sehari-hari manusia yang menghuninya. Keberlakuan teori ini sebagaimana bentuk pola pikir dan kehidupan sehari-hari menjadi komponen besar dalam kegiatan merancang yang mempengaruhi proses maupun hasil akhirnya.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna ecetemelkuran.com yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.