Paradigma Baru Perguruan Tinggi dalam Kampus Merdeka

ilustrasi oleh : pixabay.com
ilustrasi oleh : pixabay.com
Sumber :
  • vstory

VIVA – Kemajuan teknologi yang semakin kental dan deras membawa berbagai perubahan signifikan. Gawai, internet, https://www.viva.co.id//vstory/opini-vstory/1566280-paradigma-baru-perguruan-tinggi-dalam-kampus-merdeka, dokumen digital, sampai pertemuan virtual menjadi sebagian rupa-rupa ornamen yang muncul di kegiatan sehari-hari kita. Dengan demikian rasanya, gagap teknologi yang barangkali masih ada di sebagian diri kita menjadi penyakit akut yang mampu menjadikan kita tertinggal dan jauh dari relevansi kehidupan. Mengapa demikian? Sebab disadari atau tidak, dewasa ini, teknologi yang ada sudah benar-benar melekat langsung pada dimensi kehidupan. Dimulai dari pekerjaan, aktivitas olahraga, bercengkrama, serta pendidikan sudah mesti melibatkan basis teknologinya. Berbagai kemudahan dan penyederhanaan aktivitas yang bisa kita lakukan merupakan tanda bukti kita masuk dalam era baru digitalisasi.

Tuntutan Sumber Daya Manusia

Tantangan dan kebutuhan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai perlu kemudian menjadi perbincangan yang serius. Selain karena dampak kemajuan teknologi yang memberikan efek negatif semacam derasnya penyebarluasan https://www.viva.co.id//vstory/opini-vstory/1566280-paradigma-baru-perguruan-tinggi-dalam-kampus-merdeka palsu (hoax), kecacatan mortalitas, atau penyalahgunaan media https://www.viva.co.id//vstory/opini-vstory/1566280-paradigma-baru-perguruan-tinggi-dalam-kampus-merdeka sebagai alat transaksi ilegal tertentu membuka tabir bahwa menyikapi segala tantangan ini dengan menyiapkan kapasitas dan kapabilitas SDM kita khususnya generasi muda adalah langkah yang perlu dilakukan.

Secara sederhana edukasi mengenai pemanfaatan teknologi, pendampingan yang intensif, atau pengawalan ketat terhadap situs-situs media https://www.viva.co.id//vstory/opini-vstory/1566280-paradigma-baru-perguruan-tinggi-dalam-kampus-merdeka ilegal memberikan kesempatan yang semakin sempit pada potensi negatif derasnya digitalisasi ini.

Namun apakah dengan itu sudah cukup? Tentu belum bisa dikatakan cukup, karena dalam menyeimbangkan derasnya digitalisasi dan menghentikan potensi negatif yang ada perlu dilakukan secara konkret dan berkelanjutan. Secara teknisnya, mengenai hal ini, selain menjadi kewajiban instansi atau lembaga baik swasta maupun negara tertentu, filtrasi dan memunculkan kesadaran dari dalam masing-masing insan pribadi adalah hal yang perlu digelorakan, sebab pada akhirnya, jika saja berbagai instansi sudah melakukan pencegahannya, namun tujuan kesadaran akan tidak ada kemanfaatan dampak negatif teknologi digital tidak muncul dalam kesadaran kita, agaknya utopis memang jika berharap memutus mata rantai keburukan ini.

Segmentasi Perguruan Tinggi

Dalam perkembangan dunia global yang sarat akan digitalisasi, pendidikan menjadi sekat ruang yang mampu membenahi betul kesiapan dan kesigapan Sumber Daya Manusia kita, khususnya para generasi penerus bangsa. Pendidikan sudah semestinya menjadi lahan yang senantiasa subur memunculkan konsep, ide, pragmatisme, juga metodologi berpikir yang mampu menyeimbangkan gelombang problematika yang muncul perihal kemajuan zaman.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna ecetemelkuran.com yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.