4 Tips Percaya Diri Berbicara di Depan Kamera

Stewart Henry. Sumber: Instagram @stewarthp
Stewart Henry. Sumber: Instagram @stewarthp
Sumber :
  • vstory

VIVA – “Aduh, malu!” Dua kata itu seringkali diucapkan oleh seseorang yang diminta untuk berbicara di depan kamera. Tentunya tidak semua orang terbiasa untuk berbicara di depan umum, baik itu langsung menatap audiens atau melalui media kamera.

Berbicara di depan kamera memang bukan hal yang mudah bagi sebagian orang. Tidak jarang seseorang berkeringat dingin atau bahkan gemetar ketika diharuskan untuk berbicara di depan kamera. Hal ini terjadi karena rasa gugup, malu, atau cemas muncul ketika aktivitas tersebut dilaksanakan.

Sportscaster sekaligus presenter televisi Stewart Henry menganggap perasaan itu wajar ketika seseorang hendak berbicara di depan kamera atau bahkan di depan orang lain.

“Dulu pernah nervous, malu, gugup deh pas mau ngomong di awal karir,” kata Stewart.

Rasa panik dan gugup saat tampil di depan kamera berhasil diatasi oleh Stewart karena beberapa hal penting yang ia terapkan selama belasan tahun meniti karier di dunia pertelevisian. Berikut adalah beberapa tips percaya diri berbicara di depan kamera dari Stewart Henry:

  1. Kuasai materi yang akan disampaikan

    Tentunya terdapat materi yang perlu disiapkan secara matang dan maksimal oleh presenter sebelum ia berbicara di depan kamera. Hal itu penting agar seorang presenter dapat memahami dengan baik dan yakin akan materi yang disampaikan.


    “Kepercayaan diri datang saat kita menguasai materi yang akan kita sampaikan dengan baik,” ucap Stewart yang juga menjadi salah satu sportscaster Piala Dunia 2022.

  2. Rileks saat berbicara

    Setelah menguasai materi, hal penting lainnya adalah rileks. Rasa tegang seringkali muncul ketika seseorang dihadapkan dengan kamera. Jangan khawatir, perasaan tersebut bisa diatasi dengan menenangkan diri ketika berbicara. Stewart percaya seorang presenter bisa lepas dan tenang saat berbicara di depan kamera ketika rasa kepercayaan diri muncul.


    Presenter harus yakin akan materi yang sebelumnya telah ia persiapkan dan menunjukkan kepercayaan diri yang ia rasakan karena dengan demikian ketenangan saat berbicara di depan kamera akan terwujud.

  3.  Percaya dengan rekan komunikasi 

    Komunikasi di depan kamera bisa terjadi secara satu arah saat presenter hanya berbicara pada audiens sambil menghadap kamera, atau dua arah saat terdapat dua atau lebih presenter yang berinteraksi sembari disorot oleh kamera. Ketika proses komunikasi dua arah di depan kamera dilakukan, penting bagi seorang presenter untuk mempercayai rekannya.


    “Kepercayaan terhadap rekan komunikasi adalah salah satu hal penting yang perlu diterapkan ketika seorang presenter melakukan pembicaraan di depan kamera. Dengan percaya pada rekan, proses komunikasi yang dilakukan pun dapat berjalan dengan lebih lancar,” katanya.

  4. Latihan, latihan, dan latihan!

    Practice makes perfect, itulah salah satu slogan yang dipegang erat oleh Stewart selama menjalani kariernya sebagai seorang presenter. Berbagai proses latihan berhasil membuat Stewart menjadi seorang pembawa acara yang percaya diri ketika berbicara di depan kamera.


    Rasa gugup yang sebelumnya ada telah berhasil dilawan oleh Stewart hingga kini ia pun lancar membawakan berbagai program televisi. Stewart menganggap pengalaman-pengalaman yang telah ia lalui adalah pelajaran berharga bagi dirinya untuk menjadi lebih matang dalam melatih public speaking.


    Latihan menjadi bagian penting dalam proses menumbuhkan rasa percaya diri seorang presenter ketika ia hendak berbicara di depan kamera. Jangan lupa juga untuk jadikan pengalaman sebagai guru terbaik agar seorang presenter bisa berkembang seiring berjalannya waktu.


    “Beranilah untuk berbicara, jangan takut. Kalau kita tidak berani berbicara, kita tidak tahu kita akan menyesal sampai kapan,” kata Stewart mengakhiri.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.